Menaiki metro mini selepas Magrib, saya bobby dan iin
bergerak menuju Terminal Kampung Rambutan.
Sekitar pukul 20:30 kami tiba di
Terminal, dan tidak lama berselang Bayu datang menyusul. Yaa, kami berempat
siap untuk memulai perjalanan menuju Cibodas untuk menaklukkan Puncak Gunung
Gede-Pangrango.
Setelah sekian lama ngetem
nungguin penumpang penuh, tapat pukul 22:00, bis menuju Cianjur mulai
berangkat. Menikmati perjalanan malam, sambil melihat dari jendela dan
bercengkerama dalam bis sampai akhirnya kami terlelap. Perlahan udara mulai
terasa dingin, yaaa… kami ternyata sudah tiba di kawasan puncak, dan satu
persatu diantara kamipun terbangun.
Cibodas…Cibodas..Cibodas… yang
turun Cibodas… (suara kernet bis dari luar jendela)
Kami bergegas turun dan langsung
melanjutkan perjalanan menuju terminal Cibodas dengan menaiki angkot warna
kuning.
Sekitar pukul 00:00 kami akhirnya
sampai di warung Mang Asep dan berkumpul dengan teman2 yang lain. Disana sudah
menungu Bu Nang, yaa… bu Nang lah yang mengajak kami untuk ikut ke Gede. Dan kami
semua berjumlah 12 orang.
Terimakasih kami untuk Bu Nang…
Udara di warung Mang Asep cukup
membuat badan ini gemetar. Teh hangat dan sepiring nasi goreng cukup memberikan
kehangatan malam itu. Karena malam sudah semakin larut, dan kamipun istirahat. Karena
esoknya kami bersiap untuk kembali mengukir catatan perjalanan hidup.
Pukul 04:30 suara Bu Nang
membangunkan kami… hahaa… Bu Nang emang tiada duanya, kalo ada beliau, suasana
jadi rame, ga garing.. hebring dah pokoknye…
Bu Nang adalah PeMuLa (PEndaki
MUka LAma) untuk gunung2 di Jawa. Semua gunung di Jawa sudah pernah di dakinya.
Jangan heran kalo ketemu ma Bunang, teman’a ada dari semua kalangan. Gaul abis
dah..!!
Dan pukul 06:00 kami memulai menaiki gunung Gede
Pangrango. Mulai melewati ladang bawang dan brokoli hingga kami berhenti
sejenak di pos pemeriksaan Gunung Putri. Dan disana kami bertemu dengan pendaki
lain. Cukup banyak pengunjung Gunung Gede waktu itu. Kemudian perjalanan kami
lanjutkan.
Irama pendakian sukup santai, karena
kami rombongan dan tidak semua bisa naik dalam tempo yang cepat. Sambil becengrama,
foto2 dan ngemil di setiap tempat peristirahatan.
Jalur gunung putri cukup
menantang, tapi rindang, karena banyak pepohonan.
Menjalin persahabatan dalam
setiap langkah, mengasah pribadi dan mengukir cerita indah hingga sampailah
kami di Alun-alun Surya Kencana tepat pukul 15:00.
Tempat ini merupakan sebuah
padang rumput yang sangat luas, dan ditumbuhi bunga edelweis. Pemandangan disini
sungguh sangat indah.
Subhanallah…
Setelah puas menikmati indahnya
pesona Surya Kencana, kemudian kami mencari lokasi untuk mendirikan tenda. Karena
di Surya Kencana ini banyak terdapat sumber air dan banyak pengunjung yang
mendirikan tenda di lokasi ini.
Setelah menemukan lokasi yang strategis,
Bayu, Bobby, Iin dan saya pergi mengambil air sambil kami sholat ashar
berjamaah. Kemudian kami mendirikan tenda, dan kemudian acara masak2pun
dimulai. Bayu dan iin bertindak sebagai Koki. Mie rebus, sarden menjadi menu
makan kami. Di tambah dengan snack sebagai pelangkap. dan tak ketinggalan acara
jepret2, kebetulan saya dapat pinjaman kamera keren dari temen saya Ija yang
bekerja di Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.
Thanks to Ija atas pinjeman kameranya..
Hari mulai gelap, udara terasa semakin
dingin. Setelah sholat dan makan malam, kami pun istirahat. Padahal cuaca di
luar teramat cerahnya. Bintang2 tampak menghiasi langit Surya Kencana malam
itu, tapi karena kelelahan dan dingin kamipun menghiraukannya.
Terlihat Iin tertidur dengan
pulas, dan Bobby mulai ambil posisi dan ancang2 untuk terlelap.
Akan tetapi berbeda dengan Bayu,
setelah dia mengoleskan obat cream anti encok, pegal, linu punya iin, sekujur
kakinya kedinginan, gemetaran tak bisa diam…
hahaaa…. Bayuuu bayuu… bikin kocak ajah….
Akan tetapi tak lama berselang
kami berempat akhirnya tertidur dalam hangatnya tenda.
Pukul 01:00 saya terbangun,
karena sudah ga bisa tidur lagi, saya putuskan untuk keluar tenda, melawan
dinginnya malam di Surya Kencana.
Untuk menghangatkan badan saya
kemudian bikin unggun, dan paraffin sebagai sumber apinya. Sambil makan kacang
atom, menghisap rokok Marlboro putih, di tambah sebotol air minum yang terasa
seperti air es dan sekujur badan gemetar tiada henti.
Namun semua terasa indah dalam
indahnya taburan bintang di langit sambil mendekatkan tanganku ke api sambil
kubernyanyi suka hati dan sesekali ku melihat bintang jatuh.
Ooh.. indah dan damainya malam di Alun-alun Surya Kencana…
Lagi asyik2nya menikmati
dinginnya malam, Bayupun terbangun. Dan aku mengajaknya untuk menikmati malam
dari luar tenda. Akhirnya kami berdua bercengkerama dalam dingin dan indahnya
malam.
Unggun tak henti2 kami nyalakan,
tiba tiba terdengar suara dari bayangan cahaya lampu yang di bawa oleh
seseorang…
Uduuk,,, uduuk… nasi uduuk… ayoo yang nguduuk.. Rokok…rokok.. rokok Ak…
(suara si akang yang menawarkan jajanannya)
Haaah…???
Benar Bu Nang bilang, Gunung Gede
itu udah kaya pasar. Banyak yang jualan.
Karena kehabisan rokok, aku
membeli sebungkus Dji Sam Soe biar ngerokok terasa lebih nikmat.
Karena udara dingin tiada
hentinya, malah semakin dingin dan unggunpun sudah enggan menyala. Saya dan
bayu memutuskan untuk kembali masuk kedalam tenda dan kembali tidur.
Pukul 05:00 terdengan suara Rengga
dari luar tenda membangunkan kami untuk mengajak melihat Sun Rise di puncak
Gede.
Saya, Bayu dan Bobby bergegas
keluar tenda untuk menuju puncak agar tidak ketinggalan momen penting di Gunung
Gede.
Perjalanan menuju puncak kami
tempuh sekitar 30 mnt, dan alangkah beruntungnya kami karena dapat menyaksikan
indahnya sunrise dari puncak gunung Gede.
Oooouwhh… Subhanallah… luar biasa indah ciptaanMu ini…
Setelah puas berfoto2, dan minum
segelas susu coklat ditambah snack kami pun kembali turun ke tenda. Hanya butuh
waktu 10mnt untuk turun.
Dan di tenda pun kami kembali
bercengkerama dan foto2 sambil mengunggu sarapan selesai di masak.
Setelah selesai sarapan, puas berfoto2,
dan memandang indahnya pagi di Surya Kencana, pukul 10:25 kami semua bersiap
untuk jalan turun melewati puncak gede.
Pukul 11:00 kami sampai di puncak
Gunung Gede, di sana kami bertemu dengan para pendaki lain. Puas berfoto-foto
sambil memandang kawah dan asap belerangnya yang terlihat jelas dan dengan bau
yang menusuk sampai pada pukul 12:30 kami melanjutkan perjalanan turun menuju
Pintu Cibodas.
Rute turun melewati “Turunan
Setan” dimana kita turun menggunakan tali. Benar2 pengalaman yang seru. Turun santai
melewati pepohonan yang masih terlihat asri, dan sesekali terdengar kicauan
burung2 bernyanyi, kemudian selepas dari “Panyancangan” kita akan melewati anak
tangga yang tersusun dari batu dan meniti jembatan kayu. Hingga sampai akhirnya
di pusat informasi Taman Nasional hingga berakhir di Pos Pintu Cibodas. Karena kami
turun dengan santai, total waktu kami menghabiskan 8 jam dari puncak untuk
sampai ke pintu Cibodas.
Menyempatkan mampir membeli
souvenir, dan kemudian kami sampai di warung mang Asep pukul 22:00. Segelas teh
hangat dan sepiring nasi cukup memberiku energy malam itu. Hingga kemudian
istirahat, dan bersiap untuk balik ke Jakarta esok paginya.
Thanks to Bunang, Rengga, Inoy dan kawan2.
Dan tidak lupa terimakasih
juga bwt Mang Asep.
SALAM LESTARI...!!!
zhy sang petualang dari bumi andalas. kapan nih kita bisa duet 3000 mdpl?.-aji-
BalasHapushay sobat,,
BalasHapusyaa mudah2an kita bisa berduetdi 3000 mdpl..
tinggal disesuaikan jadwalnya.
dan semoga Tuhan meredhoi Rencanana ini..
amiin...
AYO kita lanjutkan petualangan2 berikutnya kawan....:)
BalasHapusdan salam kompak selalu tok petualangbumiandalas....
Lestari....!!!!
gunung kerinci menunggu...
BalasHapussiap laksanakan..!!
BalasHapustidak sengaja membaca blog ini.
BalasHapusternyata ada satu nama yang terkenal bunda (bu nang)
bundanya para pendaki .. :)
sukses selalu ..
oouyaa..??
BalasHapusmbak kenal Bu Nang dimana...??
kenal waktu naik ke gede.
BalasHapuskapan rencana mo naik lagi...??
BalasHapus