Anda Orang Minang/Padang Sejati Kalau:
1. Tidak bisa melihat dan membiarkan trotoar kosong atau nganggur.
2. Berjalan/mengendarai mobil lebih pelan di perempatan/pertigaan untuk melihat peluang membuka rumah makan.
3. Mengeluh bila belum makan masakan Padang minimal sekali sehari.
4. Tidak bisa makan tanpa cabe atau sambal pedas serta selingan kerupuk jengkol.
5. Kalo makan berkeringat, tapi kalo kerja maunya tidak berkeringat.
6. Hal pertama yang ditanya begitu sampai di suatu kota adalah dimana ada rumah makan Padang terdekat.
7. Membawa nasi rames Padang ke dalam pesawat sejak Airlines di Indonesia tidak lagi menyediakan makanan.
8. Lebih memilih rendang jengkol dan sambel pete daripada menu daging, ayam atau sambel ABC.
9. Pada saat makan pagi, anda sudah mengetahui kemana dan makanan apa yang akan dimakan untuk siang dan malam harinya.
10. Makanan kesukaan anda di daftar menu adalah yang paling murah dan paling banyak porsinya.
11. Terhimpit maunya di atas, terkurung maunya diluar.
12. Masih menawar harga barang di swalayan atau department store yang
sudah ada Price Tag-nya dengan harapan bisa dapat lebih murah.
13. Hal pertama yang muncul di pikiran saat membeli barang adalah apakah bisa dijual kembali dengan sedikit keuntungan.
14. Berhasil dengan sukses menjual serta meyakinkan seseorang untuk membeli barang kelas kaki lima dengan harga swalayan.
15. Tahu perkembangan naik turun harga barang di pasar, harga emas,
harga kain, upah jahit baju, ongkos cetak dan sewa tempat di pasar.
16. Berkunjung ke department store, swalayan atau toko hanya untuk
mengetahui perbandingan harga barang untuk kemudian mencarinya di kaki
lima.
17. Simbol matematika yang paling dikenal adalah tanda + (tambah) dan
tanda X (kali), tidak mengenal tanda - (kurang) dan tanda : (bagi).
18. Lancar mengucapkan kalimat satu 5 ribu, dua 7 setengah, tiga 10 ribu.
19. Hasil perhitungan 2+2=7 karena 4 pulang modal, 2 keuntungan dagang, 1 untuk sewa tempat/ongkos.
20. Tangan menerima uang lebih cepat dan tangkas daripada tangan membayar.
21. Pelajaran yang paling diminati di sekolah adalah aritmatika, hitung dagang, harga pokok dan marketing.
22. Tempat duduk favorite anda waktu berkunjung ke cafe atau restorant
adalah di dekat kasir atau pintu masuk, untuk melihat penerimaan uang
masuk dan jumlah pengunjung yang datang.
23. Perintah tambahan anda saat menyuruh seseorang membeli barang di
toko atau warung adalah cari harga yang paling murah dan usahakan untuk
menawar.
24. Selalu naik angkutan umum atau angkot yang ada musicnya.
25. Menyetop taxi, membuka pintu depan, kemudian bertanya ke sopir taxi-nya "Jurusan mana Bang??".
26. Lebih memilih tarif taxi sistem tawar menawar daripada sistem argometer demi alasan kepastian harga dan kepuasan menawar.
27. Selalu memilih duduk paling depan kalo naik angkutan umum, bus atau
pesawat dengan tujuan supaya bisa sampai lebih cepat dan lebih dulu.
28. Pesta pernikahan anda belum terasa lengkap tanpa ada panggung orgen
tunggal yang menampilkan penyanyi terkenal se-kecamatan atau kabupaten.
29. Begitu keluar dari kampung halaman, langsung bisa berbahasa
Indonesia Raya yang baik dengan logat Minang yang kental serta gimana
gitu.
30. Selalu berprinsip "Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung, tapi kampung halaman dan pulang kampung tetap nomor satu".
PS. Sorry bagi yang tersinggung, hanya sekedar bercanda dan self critics. GO Padang, Hidup Minang.....tambuah ciek.....
Sent by: e-ketawa on Dec 15th, 2008
balada seorang petualang. >>> kemana kaki melangkah,,, disana ia berkisah...
Kamis, 20 Oktober 2011
Senin, 10 Oktober 2011
SABDA ALAM
Kicau
burung bernyanyi, tanda buana membuka hari
Dan embun pun memudar, menyongsong fajar
Dan embun pun memudar, menyongsong fajar
Sejenak
ku terlena, akan kehidupan yang fana
Nikmat alam semesta, nusa indah nirmala
Nikmat alam semesta, nusa indah nirmala
Serasa
pagi tersenyum mesra
Tertiup bayu membangkit sukma
Adakah esok kan tersenyum jua
Memberi hangatnya sejuta rasa
Tertiup bayu membangkit sukma
Adakah esok kan tersenyum jua
Memberi hangatnya sejuta rasa
Sabda
alam, menghanyutkan suasanaku
Kadangkala kebosanan mencekam jiwa
Sabda alam, berbuah kodrat tak tertahan
Rasa cinta, rasa nista berpadu satu
Kadangkala kebosanan mencekam jiwa
Sabda alam, berbuah kodrat tak tertahan
Rasa cinta, rasa nista berpadu satu
oleh:
Chrisye
Minggu, 09 Oktober 2011
SANG PETUALANG
Laut biru begitu lapang
Dan gelombang menghalau bosan
Petualang bergerak tenang
Dan gelombang menghalau bosan
Petualang bergerak tenang
Melihat diri untuk pergi lagi
Ya sejenak hanya sejenak
Ia membelai semua luka
Yang sekejap hanya sekejap
Ia merintih pada samudera
Ia membelai semua luka
Yang sekejap hanya sekejap
Ia merintih pada samudera
Sebebas camar engkau berteriak
Setabah nelayan menembus badai
Seikhlas karang menunggu ombak
Seperti lautan engkau bersikap
Setabah nelayan menembus badai
Seikhlas karang menunggu ombak
Seperti lautan engkau bersikap
Petualang merasa sunyi
Sendiri di hitam hari
Petualang jatuh terkapar
Namun semangatnya masih berkobar
Sendiri di hitam hari
Petualang jatuh terkapar
Namun semangatnya masih berkobar
Petualang merasa sepi / merasa sunyi
Sendiri dikelam hari
Petualang jatuh terkulai
Namun semangatnya bagai matahari
Sendiri dikelam hari
Petualang jatuh terkulai
Namun semangatnya bagai matahari
Sebebas camar engkau berteriak
Setabah nelayan menembus badai
Seikhlas karang menunggu ombak
Seperti lautan engkau bersikap
Setabah nelayan menembus badai
Seikhlas karang menunggu ombak
Seperti lautan engkau bersikap
Ya sang petualang terjaga
Ya sang petualang bergerak
Ya sang petualang terkapar
Ya sang petualang sendiri
Ya sang petualang bergerak
Ya sang petualang terkapar
Ya sang petualang sendiri
Karya : Iwan Fals & Robin (Album Kantata Takwa 1990)
Kamis, 06 Oktober 2011
SALINGKA MINANG (MENURUT TAMBO MINANGKABAU)
Tiga anak dari Raja Iskandar Zulkarnain
(Alexander Agung) dari Makadunia (Macedonia) iaitu Maharajo Alif, Maharajo
Japang dan Maharajo Dirajo berlayar bersama, dan saat dalam perjalanan mereka
bertengkar sehingga mahkota kerajaan jatuh ke dalam laut. Maharajo Dirajo yang
membawa Cati Bilang Pandai –seorang pandai emas- berhasil membuat satu serupa
dengan mahkota yang hilang itu. Mahkota itu lalu ia serahkan kepada
abang-abangnya, tetapi mereka mengembalikannya kepada Maharajo Dirajo karena ia
dianggap yang paling berhak menerima, iaitu karena telah berhasil menemukannya.
Mereka adik beradik lalu berpisah. Maharajo Alif meneruskan perjalanan ke Barat
dan menjadi Raja di Bizantium, sedang Maharajo Japang ke Timur lalu menjadi
menjadi Raja di China dan Jepang (Jepun), manakala Maharajo Dirajo ke Selatan
sedang perahunya terkandas di puncak Gunung Merapi saat Banjir Nabi Nuh
melanda. Begitu banjir surut, dari puncak gunung Merapi yang diyakini sebagai
asal alam Minangkabau turunlah rombongan Maharajo Dirajo dan berkampung
disekitarnya.Mulanya wujud Teratak lalu berkembang menjadi Dusun lalu jadi
Nagari lalu jadilah Koto dan akhirnya menjadi Luhak.Daerah Minangkabau yang
asal adalah disekitar Merapi, Singgalang, Tandikat dan Saga.Semuanya terbagi
atas 3 Luhak atau Luhak Nan Tigo.Luhak ini membawahi daerah Rantau. Jadi ada 3
luhak dengan 3 rantau :
1. Luhak AGAM berpusat di BUKITTINGGI dengan Rantau PASAMAN
2. Luhak TANAHDATAR berpusat di BATUSANGKAR dengan Rantau SOLOK
3. Luhak LIMAPULUH KOTA berpusat di PAYA KUMBUH dengan Rantau KAMPAR
Batas Alam Minangkabau menurut Tambo :
“Dari Riak nan Badabua, Siluluak Punai Maif,
Sirangkak nan Badangkuang, Buayo Putiah Daguak,
Taratak Aie Hitam, Sikilang Aie Bangih , Hingga Durian Ditakuak Rajo”
“Dari Riak nan Berdebur, Siluluk Punai Maif,
Sirangkak nan Berdengkung, Buaya Putih Daguk,
Teratak Air Hitam, Sikilang Air Bangis , Hingga Durian Ditekuk Raja”
Tafsiran dari ‘Riak nan Berdebur’ adalah daerah Pesisir Pantai Barat iaitu wilayah dari Padang hingga Bengkulu; sedangkan ‘Teratak Air Hitam’ adalah Rantau Timur sekitar Kampar dan Kuantan (sekarang di Riau). Ini sesuai penjelasan bahwa selain 3 Luhak dan 3 Rantau diatas yang disebut ‘Darek” atau “Darat”, Minangkabau mempunyai daerah Rantau luar iaitu Rantau Pesisir Barat dan Rantau Timur dengan wilayah :
1. RANTAU PESISIR BARAT (Pasisie Barek): Sikilang Air Bangis, Tiku Pariaman, Padang, Bandar Sepuluh, Air Haji, Inderapura, Kerinci (kini masuk Jambi) dan Muko-muko (Bengkulu).
2. RANTAU TIMUR : Daerah hilir sungai-sungai besar Rokan, Siak, Tapung, Kampar dan Inderagiri (Kuantan), kesemuanya kini masuk di Riau.
Asal-usulnya menurut Sejarawan
Senarai kerajaan di Sumatra yang merupakan cikal-bakal Kerajaan Minangkabau mulai zaman Hindu-Budha Abad 7 adalah :
1. KERAJAAN MALAYU (Melayu Tua) terletak di Muara Tembesi (kini masuk wilayah Batanghari, Jambi). Berdiri sekitar Abad 6 – awal 7 M
2.KERAJAAN SRIWIJAYA TUA terletak di Muara Sabak (kini masuk masuk wilayah Tanjung Jabung, Jambi).Berdiri sekitar tengah Abad 7 – awal 8 M
3.KERAJAAN SRIWIJAYA di Palembang, Sum.Selatan.Akhir abad 7 - 11 M
4.KESULTANAN KUNTU terletak di Kampar, sekitar Abad 14 M
5. KERAJAAN MALAYU (Melayu Muda) atau DHARMASRAYA terletak di Muara Jambi, abad 12-14 M. Tahun 1278 Ekspedisi Pamalayu dari Singasari di Jawa Timur menguasai kerajaan ini dan membawa serta putri dari Raja Malayu untuk dinikahkan dengan Raja Singasari. Hasil perkawinan ini adalah seorang pangeran bernama Adityawarman, yang setelah cukup umur dinobatkan sebagai Raja Malayu. Pusat kerajaan inilah yang kemudian dipindahkan oleh Adityawarman ke Pagaruyung dan menjadi raja pertama sekitar tahun 1347
PAGARUYUNG (1347-1809)
Adityawarman meninggalkan banyak prasasti –terbanyak bahkan jika dibanding periode Raja-raja Sri Wijaya. Ia menyebut dirinya sebagai ‘Kanakamedinindra” (Penguasa Tanah Emas). Dan memang Kerajaan Pagaruyung menguasai perdagangan lada/rempah dan emas terutama di Rantau Timur dan dijual ke daerah luar melalui pesisir barat, dimana para pedagang datang dari Aceh Tamil, Gujerat dan Parsi untuk dijual di pasaran dunia. Secara berangsur-angsur kerajaan Pagaruyung mulai mundur kira-kira pada abad 15, sehingga peranan daerah Rantau Pesisir yang berupa kota-kota pelabuhan di pantai barat Sumatra justru semakin berkembang.Pada saat inilah Aceh yang tengah berada pada puncaknya masuk sekitar tahun tahun 1640 disertai masuknya ajaran Islam.Pada akhir abad 16, Pagaruyung sudah tidak utuh lagi, kekuasaan raja tidak mutlak.
Yang Dipertuan Pagaruyung sebagai Raja Alam membahagi kekuasaannya pada 2 Raja yang lain iaitu Raja Adat yang berkedudukan di Buo, dan Raja Ibadat di Sumpur Kudus. Kesatuan tiga raja disebut “Rajo Nan Tigo Selo”. Sedangkan yang menjalankan kekuasaan Lembaga eksekutif -disebut “Baca Ampek (Empat) Balai”- terdiri 4 Datuk dengan 1 Datuk penguat iaitu :
1. Datuk Bandaharo (Menteri Utama & Keuangan) di Sungai Tarab
2. Tuan Indomo (Menteri Adat) di Suruaso
3.Tuan Makhdum (Menteri Kerajaan Wilayah Rantau) di Sumanik
4.Tuan Kadi (Menteri Agama) di Padang Ganting, diperkuat oleh
5.Tuan Gadang (Menteri Keamanan & Pertahanan) di Batipuh
Semua berada di Luhak Tanah Datar.Pada abad 17-18, Siak di Rantau Timur mulai melepaskan diri dan mengembangkan kekuasaannya ke utara hingga ke Rokan, Panai, Bilah, Asahan dan Tamiang.Hal ini dimungkinkan oleh kuatnya kerajaan Siak dalam perdagangan dengan Melaka dan Belanda, disamping mulai merosotnya Aceh sesudah Sultan Iskandar Muda mangkat di tahun 1639.
Perluasan daerah rantau kemudian menyeberangi Selat Melaka sehingga jadilah Negeri Sembilan di Semenanjung. Rantau Pesisir Barat yang telah dikuasai Aceh tidak lagi setia kepada Pagaruyung dimana gerakan pemurnian Islam berpusat di Bonjol kelak akan muncul. Rantau Daerah Timur bagaimanapun masih tetap patuh dan setia.Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung pergi ke rantau-rantau ini untuk mengumpul upeti (ufti) 3 kali setahun. Ini berlangsung sampai dengan kebangkitan pemurnian Islam yang memecah Minang menjadi 2 iaitu Kaum Putih/Paderi (Pemurnian Islam) dan Kaum Hitam (Adat), mereka terlibat pertempuran dalam Perang Paderi. 2 Luhak iaitu Agam dan Limapuluh Kota telah tunduk kepada Kaum Putih, tetapi Luhak Tanah Datar bertahan hingga dihancurkan oleh pasukan Paderi dari Tuanku Lelo pada tahun 1809.Munculnya Belanda ke Ranah Minang akhirnya justru menjadi pemenang atas situasi tadi, setelah Pasukan Paderi yang menang Perang Paderi melawan Kaum Adat dihancurkan Belanda.
Bagaimana pun selanjutnya Islam tetap menjadi pedoman Adat Minangkabau, dimana setiap Adat yang tidak sesuai dengan Syarak (Hukum Islam) akan dibuang. Sehingga jadilah pedoman berzaman yang berbunyi “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”.Adat haruslah bersendi atau tunduk kepada Hukum Allah.
1. Luhak AGAM berpusat di BUKITTINGGI dengan Rantau PASAMAN
2. Luhak TANAHDATAR berpusat di BATUSANGKAR dengan Rantau SOLOK
3. Luhak LIMAPULUH KOTA berpusat di PAYA KUMBUH dengan Rantau KAMPAR
Batas Alam Minangkabau menurut Tambo :
“Dari Riak nan Badabua, Siluluak Punai Maif,
Sirangkak nan Badangkuang, Buayo Putiah Daguak,
Taratak Aie Hitam, Sikilang Aie Bangih , Hingga Durian Ditakuak Rajo”
“Dari Riak nan Berdebur, Siluluk Punai Maif,
Sirangkak nan Berdengkung, Buaya Putih Daguk,
Teratak Air Hitam, Sikilang Air Bangis , Hingga Durian Ditekuk Raja”
Tafsiran dari ‘Riak nan Berdebur’ adalah daerah Pesisir Pantai Barat iaitu wilayah dari Padang hingga Bengkulu; sedangkan ‘Teratak Air Hitam’ adalah Rantau Timur sekitar Kampar dan Kuantan (sekarang di Riau). Ini sesuai penjelasan bahwa selain 3 Luhak dan 3 Rantau diatas yang disebut ‘Darek” atau “Darat”, Minangkabau mempunyai daerah Rantau luar iaitu Rantau Pesisir Barat dan Rantau Timur dengan wilayah :
1. RANTAU PESISIR BARAT (Pasisie Barek): Sikilang Air Bangis, Tiku Pariaman, Padang, Bandar Sepuluh, Air Haji, Inderapura, Kerinci (kini masuk Jambi) dan Muko-muko (Bengkulu).
2. RANTAU TIMUR : Daerah hilir sungai-sungai besar Rokan, Siak, Tapung, Kampar dan Inderagiri (Kuantan), kesemuanya kini masuk di Riau.
Asal-usulnya menurut Sejarawan
Senarai kerajaan di Sumatra yang merupakan cikal-bakal Kerajaan Minangkabau mulai zaman Hindu-Budha Abad 7 adalah :
1. KERAJAAN MALAYU (Melayu Tua) terletak di Muara Tembesi (kini masuk wilayah Batanghari, Jambi). Berdiri sekitar Abad 6 – awal 7 M
2.KERAJAAN SRIWIJAYA TUA terletak di Muara Sabak (kini masuk masuk wilayah Tanjung Jabung, Jambi).Berdiri sekitar tengah Abad 7 – awal 8 M
3.KERAJAAN SRIWIJAYA di Palembang, Sum.Selatan.Akhir abad 7 - 11 M
4.KESULTANAN KUNTU terletak di Kampar, sekitar Abad 14 M
5. KERAJAAN MALAYU (Melayu Muda) atau DHARMASRAYA terletak di Muara Jambi, abad 12-14 M. Tahun 1278 Ekspedisi Pamalayu dari Singasari di Jawa Timur menguasai kerajaan ini dan membawa serta putri dari Raja Malayu untuk dinikahkan dengan Raja Singasari. Hasil perkawinan ini adalah seorang pangeran bernama Adityawarman, yang setelah cukup umur dinobatkan sebagai Raja Malayu. Pusat kerajaan inilah yang kemudian dipindahkan oleh Adityawarman ke Pagaruyung dan menjadi raja pertama sekitar tahun 1347
PAGARUYUNG (1347-1809)
Adityawarman meninggalkan banyak prasasti –terbanyak bahkan jika dibanding periode Raja-raja Sri Wijaya. Ia menyebut dirinya sebagai ‘Kanakamedinindra” (Penguasa Tanah Emas). Dan memang Kerajaan Pagaruyung menguasai perdagangan lada/rempah dan emas terutama di Rantau Timur dan dijual ke daerah luar melalui pesisir barat, dimana para pedagang datang dari Aceh Tamil, Gujerat dan Parsi untuk dijual di pasaran dunia. Secara berangsur-angsur kerajaan Pagaruyung mulai mundur kira-kira pada abad 15, sehingga peranan daerah Rantau Pesisir yang berupa kota-kota pelabuhan di pantai barat Sumatra justru semakin berkembang.Pada saat inilah Aceh yang tengah berada pada puncaknya masuk sekitar tahun tahun 1640 disertai masuknya ajaran Islam.Pada akhir abad 16, Pagaruyung sudah tidak utuh lagi, kekuasaan raja tidak mutlak.
Yang Dipertuan Pagaruyung sebagai Raja Alam membahagi kekuasaannya pada 2 Raja yang lain iaitu Raja Adat yang berkedudukan di Buo, dan Raja Ibadat di Sumpur Kudus. Kesatuan tiga raja disebut “Rajo Nan Tigo Selo”. Sedangkan yang menjalankan kekuasaan Lembaga eksekutif -disebut “Baca Ampek (Empat) Balai”- terdiri 4 Datuk dengan 1 Datuk penguat iaitu :
1. Datuk Bandaharo (Menteri Utama & Keuangan) di Sungai Tarab
2. Tuan Indomo (Menteri Adat) di Suruaso
3.Tuan Makhdum (Menteri Kerajaan Wilayah Rantau) di Sumanik
4.Tuan Kadi (Menteri Agama) di Padang Ganting, diperkuat oleh
5.Tuan Gadang (Menteri Keamanan & Pertahanan) di Batipuh
Semua berada di Luhak Tanah Datar.Pada abad 17-18, Siak di Rantau Timur mulai melepaskan diri dan mengembangkan kekuasaannya ke utara hingga ke Rokan, Panai, Bilah, Asahan dan Tamiang.Hal ini dimungkinkan oleh kuatnya kerajaan Siak dalam perdagangan dengan Melaka dan Belanda, disamping mulai merosotnya Aceh sesudah Sultan Iskandar Muda mangkat di tahun 1639.
Perluasan daerah rantau kemudian menyeberangi Selat Melaka sehingga jadilah Negeri Sembilan di Semenanjung. Rantau Pesisir Barat yang telah dikuasai Aceh tidak lagi setia kepada Pagaruyung dimana gerakan pemurnian Islam berpusat di Bonjol kelak akan muncul. Rantau Daerah Timur bagaimanapun masih tetap patuh dan setia.Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung pergi ke rantau-rantau ini untuk mengumpul upeti (ufti) 3 kali setahun. Ini berlangsung sampai dengan kebangkitan pemurnian Islam yang memecah Minang menjadi 2 iaitu Kaum Putih/Paderi (Pemurnian Islam) dan Kaum Hitam (Adat), mereka terlibat pertempuran dalam Perang Paderi. 2 Luhak iaitu Agam dan Limapuluh Kota telah tunduk kepada Kaum Putih, tetapi Luhak Tanah Datar bertahan hingga dihancurkan oleh pasukan Paderi dari Tuanku Lelo pada tahun 1809.Munculnya Belanda ke Ranah Minang akhirnya justru menjadi pemenang atas situasi tadi, setelah Pasukan Paderi yang menang Perang Paderi melawan Kaum Adat dihancurkan Belanda.
Bagaimana pun selanjutnya Islam tetap menjadi pedoman Adat Minangkabau, dimana setiap Adat yang tidak sesuai dengan Syarak (Hukum Islam) akan dibuang. Sehingga jadilah pedoman berzaman yang berbunyi “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”.Adat haruslah bersendi atau tunduk kepada Hukum Allah.
SUMBER :
-Sejarah Minangkabau, MD Mansur – Bharata, Jakarta
-Dasar Falsafah Adat Minangkabau, Muhammad Nasrun – Bulan Bintang, Jakarta
-Sejarah Minangkabau, MD Mansur – Bharata, Jakarta
-Dasar Falsafah Adat Minangkabau, Muhammad Nasrun – Bulan Bintang, Jakarta
IWAN FALS ..... ^O^
lagi iseng baca kumpulan lirik lagunya Iwan Fals, tiba2 gw terdiam baca lirik yang
satu ini. untaian kata2'a dalem bgt. di setiap kata'a bner2 nyentuh...
nih
lirik'a... :
Dari gunung ke gunung
Menembus kabut kembali ke jurang
Melewati hutan pinus, melewati jalan setapak
Mendengarkan gesekan daun dan burung-burung
Menikmati aroma tanah dan segarnya udara
Jauh dari kebingungan sehari-hari
Aku
dapat lepas teriak
Aku dapat bebas bergerak
Sambil menghangatkan tubuh pada api unggun
Lalu bersyukur atas semua ini
Aku dapat bebas bergerak
Sambil menghangatkan tubuh pada api unggun
Lalu bersyukur atas semua ini
Ternyata masih ada tempat untuk kita berbicara
Walau lewat mata
Senangnya
hati tak bisa aku gambarkan
Apabila pagi datang menjelang
Dingin yang menembus tenda daging dan tulang
Perlahan tapi pasti mulai menghilang
Kita
menari menyanyi sesuka hati
Lidah sang api memanggil-manggil ILLAHI
ALLAH MAHA BESAR… ALLAH YANG TERBESAR
Lidah sang api memanggil-manggil ILLAHI
ALLAH MAHA BESAR… ALLAH YANG TERBESAR
Selasa, 04 Oktober 2011
MENIKMATI INDAHNYA PESONA GEDE PANGRANGO
Menaiki metro mini selepas Magrib, saya bobby dan iin
bergerak menuju Terminal Kampung Rambutan.
Sekitar pukul 20:30 kami tiba di
Terminal, dan tidak lama berselang Bayu datang menyusul. Yaa, kami berempat
siap untuk memulai perjalanan menuju Cibodas untuk menaklukkan Puncak Gunung
Gede-Pangrango.
Setelah sekian lama ngetem
nungguin penumpang penuh, tapat pukul 22:00, bis menuju Cianjur mulai
berangkat. Menikmati perjalanan malam, sambil melihat dari jendela dan
bercengkerama dalam bis sampai akhirnya kami terlelap. Perlahan udara mulai
terasa dingin, yaaa… kami ternyata sudah tiba di kawasan puncak, dan satu
persatu diantara kamipun terbangun.
Cibodas…Cibodas..Cibodas… yang
turun Cibodas… (suara kernet bis dari luar jendela)
Kami bergegas turun dan langsung
melanjutkan perjalanan menuju terminal Cibodas dengan menaiki angkot warna
kuning.
Sekitar pukul 00:00 kami akhirnya
sampai di warung Mang Asep dan berkumpul dengan teman2 yang lain. Disana sudah
menungu Bu Nang, yaa… bu Nang lah yang mengajak kami untuk ikut ke Gede. Dan kami
semua berjumlah 12 orang.
Terimakasih kami untuk Bu Nang…
Udara di warung Mang Asep cukup
membuat badan ini gemetar. Teh hangat dan sepiring nasi goreng cukup memberikan
kehangatan malam itu. Karena malam sudah semakin larut, dan kamipun istirahat. Karena
esoknya kami bersiap untuk kembali mengukir catatan perjalanan hidup.
Pukul 04:30 suara Bu Nang
membangunkan kami… hahaa… Bu Nang emang tiada duanya, kalo ada beliau, suasana
jadi rame, ga garing.. hebring dah pokoknye…
Bu Nang adalah PeMuLa (PEndaki
MUka LAma) untuk gunung2 di Jawa. Semua gunung di Jawa sudah pernah di dakinya.
Jangan heran kalo ketemu ma Bunang, teman’a ada dari semua kalangan. Gaul abis
dah..!!
Dan pukul 06:00 kami memulai menaiki gunung Gede
Pangrango. Mulai melewati ladang bawang dan brokoli hingga kami berhenti
sejenak di pos pemeriksaan Gunung Putri. Dan disana kami bertemu dengan pendaki
lain. Cukup banyak pengunjung Gunung Gede waktu itu. Kemudian perjalanan kami
lanjutkan.
Irama pendakian sukup santai, karena
kami rombongan dan tidak semua bisa naik dalam tempo yang cepat. Sambil becengrama,
foto2 dan ngemil di setiap tempat peristirahatan.
Jalur gunung putri cukup
menantang, tapi rindang, karena banyak pepohonan.
Menjalin persahabatan dalam
setiap langkah, mengasah pribadi dan mengukir cerita indah hingga sampailah
kami di Alun-alun Surya Kencana tepat pukul 15:00.
Tempat ini merupakan sebuah
padang rumput yang sangat luas, dan ditumbuhi bunga edelweis. Pemandangan disini
sungguh sangat indah.
Subhanallah…
Setelah puas menikmati indahnya
pesona Surya Kencana, kemudian kami mencari lokasi untuk mendirikan tenda. Karena
di Surya Kencana ini banyak terdapat sumber air dan banyak pengunjung yang
mendirikan tenda di lokasi ini.
Setelah menemukan lokasi yang strategis,
Bayu, Bobby, Iin dan saya pergi mengambil air sambil kami sholat ashar
berjamaah. Kemudian kami mendirikan tenda, dan kemudian acara masak2pun
dimulai. Bayu dan iin bertindak sebagai Koki. Mie rebus, sarden menjadi menu
makan kami. Di tambah dengan snack sebagai pelangkap. dan tak ketinggalan acara
jepret2, kebetulan saya dapat pinjaman kamera keren dari temen saya Ija yang
bekerja di Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.
Thanks to Ija atas pinjeman kameranya..
Hari mulai gelap, udara terasa semakin
dingin. Setelah sholat dan makan malam, kami pun istirahat. Padahal cuaca di
luar teramat cerahnya. Bintang2 tampak menghiasi langit Surya Kencana malam
itu, tapi karena kelelahan dan dingin kamipun menghiraukannya.
Terlihat Iin tertidur dengan
pulas, dan Bobby mulai ambil posisi dan ancang2 untuk terlelap.
Akan tetapi berbeda dengan Bayu,
setelah dia mengoleskan obat cream anti encok, pegal, linu punya iin, sekujur
kakinya kedinginan, gemetaran tak bisa diam…
hahaaa…. Bayuuu bayuu… bikin kocak ajah….
Akan tetapi tak lama berselang
kami berempat akhirnya tertidur dalam hangatnya tenda.
Pukul 01:00 saya terbangun,
karena sudah ga bisa tidur lagi, saya putuskan untuk keluar tenda, melawan
dinginnya malam di Surya Kencana.
Untuk menghangatkan badan saya
kemudian bikin unggun, dan paraffin sebagai sumber apinya. Sambil makan kacang
atom, menghisap rokok Marlboro putih, di tambah sebotol air minum yang terasa
seperti air es dan sekujur badan gemetar tiada henti.
Namun semua terasa indah dalam
indahnya taburan bintang di langit sambil mendekatkan tanganku ke api sambil
kubernyanyi suka hati dan sesekali ku melihat bintang jatuh.
Ooh.. indah dan damainya malam di Alun-alun Surya Kencana…
Lagi asyik2nya menikmati
dinginnya malam, Bayupun terbangun. Dan aku mengajaknya untuk menikmati malam
dari luar tenda. Akhirnya kami berdua bercengkerama dalam dingin dan indahnya
malam.
Unggun tak henti2 kami nyalakan,
tiba tiba terdengar suara dari bayangan cahaya lampu yang di bawa oleh
seseorang…
Uduuk,,, uduuk… nasi uduuk… ayoo yang nguduuk.. Rokok…rokok.. rokok Ak…
(suara si akang yang menawarkan jajanannya)
Haaah…???
Benar Bu Nang bilang, Gunung Gede
itu udah kaya pasar. Banyak yang jualan.
Karena kehabisan rokok, aku
membeli sebungkus Dji Sam Soe biar ngerokok terasa lebih nikmat.
Karena udara dingin tiada
hentinya, malah semakin dingin dan unggunpun sudah enggan menyala. Saya dan
bayu memutuskan untuk kembali masuk kedalam tenda dan kembali tidur.
Pukul 05:00 terdengan suara Rengga
dari luar tenda membangunkan kami untuk mengajak melihat Sun Rise di puncak
Gede.
Saya, Bayu dan Bobby bergegas
keluar tenda untuk menuju puncak agar tidak ketinggalan momen penting di Gunung
Gede.
Perjalanan menuju puncak kami
tempuh sekitar 30 mnt, dan alangkah beruntungnya kami karena dapat menyaksikan
indahnya sunrise dari puncak gunung Gede.
Oooouwhh… Subhanallah… luar biasa indah ciptaanMu ini…
Setelah puas berfoto2, dan minum
segelas susu coklat ditambah snack kami pun kembali turun ke tenda. Hanya butuh
waktu 10mnt untuk turun.
Dan di tenda pun kami kembali
bercengkerama dan foto2 sambil mengunggu sarapan selesai di masak.
Setelah selesai sarapan, puas berfoto2,
dan memandang indahnya pagi di Surya Kencana, pukul 10:25 kami semua bersiap
untuk jalan turun melewati puncak gede.
Pukul 11:00 kami sampai di puncak
Gunung Gede, di sana kami bertemu dengan para pendaki lain. Puas berfoto-foto
sambil memandang kawah dan asap belerangnya yang terlihat jelas dan dengan bau
yang menusuk sampai pada pukul 12:30 kami melanjutkan perjalanan turun menuju
Pintu Cibodas.
Rute turun melewati “Turunan
Setan” dimana kita turun menggunakan tali. Benar2 pengalaman yang seru. Turun santai
melewati pepohonan yang masih terlihat asri, dan sesekali terdengar kicauan
burung2 bernyanyi, kemudian selepas dari “Panyancangan” kita akan melewati anak
tangga yang tersusun dari batu dan meniti jembatan kayu. Hingga sampai akhirnya
di pusat informasi Taman Nasional hingga berakhir di Pos Pintu Cibodas. Karena kami
turun dengan santai, total waktu kami menghabiskan 8 jam dari puncak untuk
sampai ke pintu Cibodas.
Menyempatkan mampir membeli
souvenir, dan kemudian kami sampai di warung mang Asep pukul 22:00. Segelas teh
hangat dan sepiring nasi cukup memberiku energy malam itu. Hingga kemudian
istirahat, dan bersiap untuk balik ke Jakarta esok paginya.
Thanks to Bunang, Rengga, Inoy dan kawan2.
Dan tidak lupa terimakasih
juga bwt Mang Asep.
SALAM LESTARI...!!!
Langganan:
Komentar (Atom)





